BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Epidemi HIV dan AIDS yang telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, memerlukan tindakan pengendalian yang agresif dan komprehensif. Seperti telah kita ketahui bersama, sejak kasus HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1987, maka hingga saat ini laju epideminya cenderung terus meningkat. Hingga tahun 2008, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan mencapai 12,686 kasus (menurut laporan triwulan II 2008 Subdit AIDS dan PMS, Ditjen P2PL).
Seperti kita ketahui bahwa jumlah RS maupun puskesmas yang melakukan pelayanan PMTCT masih sedikit jumlahnya, oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat, diperlukan pelatihan yang berkesinambungan dan merata di pusat-pusat layanan HIV dan AIDS.
. Salah satu penularan HIV yang cukup penting adalah penularan dari ibu ke bayi/janin, sedikitnya 90% kasus HIV pada anak (usia di bawah 15 tahun) di dunia adalah karena penularan dari ibu ke janin/bayi. Sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS, diperkirakan sekitar 2,7 juta anak telah terinfeksi HIV di dunia pada akhir bulan Desember 2001, 580 ribu diantaranya telah meninggal, dan 800 ribu infeksi baru terjadi sepanjang tahun 2001.
Di negara-negara berkembang tingkat risiko penularan janin dari ibu hamil yang mengidap HIV diperkirakan sekitar 25-40%. Dengan adanya perkembangan obat antiretroviral (ARV) saat ini, bila ibu janin terinfeksi HIV, maka melalui terapi ARV tingkat risiko penularan HIV ke janin bisa berkurang menjadi hanya 8%. Jika si ibu memilih persalinan sesar maka risiko akan semakin rendah, yakni di bawah 1%.
Di Indonesia, dari 2.876 kasus nasional HIV/AIDS yang dilaporkan pada bulan Maret 2002 diketahui 11 diantaranya adala bayi dan balita yang tertular dari orang tuanya. Di sisi lain, saat ini mayoritas ibu hamil di Indonesia sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk memperoleh informasi HIV/AIDS, layanan konseling, dan tes HIV. Hal tersebut menyebabkan para ibu hamil mengabaikan perlunya tindakan sedini mungkin dalam pencegahan penularan HIV dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya.
Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak ada dua jenis yaitu maternal dan obstetrik. Pada maternal yaitu viral load yang tinggi (> 5.000 copies/ml), karakteristik virus, CD4 < 200/T, defisiensi imun, infeksi virus, bakteri, parasit, defisiensi vitamin A, penasun, dan banyak pasangan seksual. Seclangkan pada faktor obstetrik yaitu kelahiran per vagina, ketuban pecah dini (KPD) yang terbengkalai, pendarahan intraparturn, chorioamnionitis, prosedur invasif, clan dari segi bayi yaitu prematur, BBLR, ASI dan luka di mulut bayi. Tingkat penerimaan plasma darah HIV RNA berhubungan dengan transmisi kehamilan seperti pada data yang disajikan oleh women and infants transmission study 1990 / 1999 yang menunjukkan peningkatan dari 1 32 %.
Strategi pencegahan transmisi maternal ke janin yaitu dengan mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV (+) melalui kontrasepsi clan pemilihan pasangan, turunkan viral load serendah rendahnya melalui terapi ARV, hidup sehat, dan gunakan kondom., meminimalkan paparan janin atau bayi dengan cairan tubuh maternal melalui kelahiran sesar atau minimalkan operasi dan pengganti ASI, serta optimalkan kesehatan bayi dengan ibu HIV (+) melalui pemberian ARV dan pernantauan bayi yang berisiko.
Hubungan antara infeksi dini dan infeksi terlambat pada bayi dengan HIV 1 yaitu pada infeksi dini umur bayi < 2 bulan dapat dideteksi bila terdapat viral load, kelahiran normal, CD4 43.000, mastitis, clan bisul, pada puting susu. Bayi yang terinfeksi HIV melalui kelahiran normal terjadi melaiui transmisi ke mucosa intestinal bayi. Dampak pada proses menyusui yaitu bahwa pemberian ASI pada umur 12 24 bulan lebih besar (32,3 - 36,7 %) untuk terinfeksi daripada pemberian susu formula (18,2 - 20,5 %).
Probabilitas transmisi HIVI melalui air susu yaitu 0.00064 per liter dan 0.00028 per hari dari proses menyusui. Satu bayi akan terinfeksi bila menclapatkan ASI 1500 L dan 10 dari 100 anak per tahunnya yang mendapatkan ASI akan terinfeksi. Perempuan HIV (+) sangat direkomendasikan untuk tidak menyusui bayinya. Semakin lama menyusui maka semakin besar risiko penularannya.
Transmisi vertikal hanya dapat terjadi melalui proses menyusui karena dalam ASI mengandung antibiotik dan vaksin yang akan masuk ke dalarn tubuh bayi. Proses terjadinya secara pasti belurn dapat diketahui dengan jelas. Namun virus HIV dalarn darah akan masuk ke ASI sehingga bayi akan tertular HIV melalui jaringan mukosa yang tembus, jaringan limfa, luka di mulut, clan usus. Meskipun masa menyusui bayi dapat mengkonsumsi > 500.000 viron, maka > 25.000 sel yang terinfeksi per hari, sebagian besar tidak menjadi terinfeksi.
- Rumusan Masalah
Berdasarkan perkembangan ilmu kesehatan sekarang yang semakin maju, maka dalam makalah ini akan mengulas mengenai :
1. Bagaimanakah pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
2. Bagaimanakah penanggulangan penularan HIV dari ibu ke bayi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. DASAR TEORI
Kita masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu-ke-bayi. Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu, bayi yang disusui oleh
ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Hal ini ditunjukkan dalam gambar berikut:

Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat terdeteksi – seperti juga ART untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral load penting pada waktu melahirkan. Seperti ditunjukkan pada gambar, penularan dapat terjadi dalam kandungan. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan tersebut dapat memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Kerusakan pada plasenta dapat disebabkan oleh penyakit lain pada ibu, terutama malaria dan TB.
Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan, karena bayi tersentuh oleh darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. Jelas, jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor risiko untuk penularan. Juga intervensi untuk membantu persalinan yang dapat melukai bayi, misalnya vakum, dapat meningkatkan risiko. Karena air susu ibu (ASI) dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV, juga ada risiko penularan HIV melalui menyusui. Intervensi untuk menghadapi risiko ini dibahas pada halaman 42. Faktor risiko lain termasuk kelahiran premature (bayi lahir terlalu dini) dan kekurangan perawatan HIV sebelum melahirkan. Sebenarnya semua faktor risiko menunjukkan satu hal: yang terpenting adalah mengawasi kesehatan ibu.
Beberapa pokok kunci:
Status HIV bayi dipengaruhi oleh kesehatan
ibunya
Status HIV bayi tidak dipengaruhi sama
sekali oleh status HIV ayahnya
Status HIV bayi tidak dipengaruhi oleh
status HIV anak lain dari ibu
B . PEMBAHASAN
Salah satu penularan HIV yang cukup penting adalah penularan dari ibu ke bayi/janin, sedikitnya 90% kasus HIV pada anak (usia di bawah 15 tahun) di dunia adalah karena penularan dari ibu ke janin/bayi. Sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS, diperkirakan sekitar 2,7 juta anak telah terinfeksi HIV di dunia pada akhir bulan Desember 2001, 580 ribu diantaranya telah meninggal, dan 800 ribu infeksi baru terjadi sepanjang tahun 2001. Di negara-negara berkembang tingkat risiko penularan janin dari ibu hamil yang mengidap HIV diperkirakan sekitar 25-40%. Dengan adanya perkembangan obat antiretroviral (ARV) saat ini, bila ibu janin terinfeksi HIV, maka melalui terapi ARV tingkat risiko penularan HIV ke janin bisa berkurang menjadi hanya 8%. Jika si ibu memilih persalinan sesar maka risiko akan semakin rendah, yakni di bawah 1%.
Di Indonesia, dari 2.876 kasus nasional HIV/AIDS yang dilaporkan pada bulan Maret 2002 diketahui 11 diantaranya adala bayi dan balita yang tertular dari orang tuanya. Di sisi lain, saat ini mayoritas ibu hamil di Indonesia sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk memperoleh informasi HIV/AIDS, layanan konseling, dan tes HIV. Hal tersebut menyebabkan para ibu hamil mengabaikan perlunya tindakan sedini mungkin dalam pencegahan penularan HIV dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya.
Negara-negara berkembang memberikan lebih dari 80% obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah perpindahan penyakit ini dari ibu ke anak. Prosentase wanita di negara miskin dan berkembang yang menerima ARV pun mengalami peningkatan, dari 15% di tahun 2005 menjadi 45% di tahun 2008 dan 53% di tahun 2009.
Meski demikian, masih sedikit ibu hamil yang memeriksakan diri dari kemungkinan HIV. Bisa jadi para ibu sudah ‘pasrah’ bahwa penyakit tersebut pasti akan menular kepada janinnya. Padahal, kondisi ini tidak selalu terjadi. Dengan memeriksakan diri, kondisi mereka menjadi lebih terpantau, selain mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV pada ibu hamil. Misalnya, bahwa ibu hamil yang terinfeksi HIV tetap dapat melindungi bayi dengan pengobatan ARV dan setelah lahir tidak diizinkan untuk menyusui si bayi.
Bagaimana obat antiretroviral melindungi bayi?
Penelitian yang dilaporkan pada 1994 menunjukkan bahwa ARV dapat mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi. Pada penelitian ini, perempuan hamil memakai satu jenis ARV, yaitu AZT, sebelum dan saat persalinan, dan bayinya diberikan AZT setelah lahir. Intervensi ini mengurangi risiko bayi menjadi terinfeksi HIV dari 25% menjadi 8%. Setelah 1994, intervensi ini diusulkan untuk semua ibu terinfeksi HIV di negara maju. Setelah masa itu, terjadi perkembangan lebih lanjut, terutama setelah ART menjadi semakin umum pada akhir 1990-an. Angka penularan HIV dari ibu-ke-bayi di AS sekarang di bawah 1%.
Berdasarkan penelitian itu, beberapa dokter mengusulkan dimasukkan AZT dalam kombinasi obat yang dipakai oleh ibu hamil. Namun bila virus ibu resistan (kebal) terhadap AZT, tidak ada manfaat memakainya. Juga bila ibu mengalami anemia (kurang darah merah) atau efek samping lain, atau sudah pakai ART yang tidak mengandung AZT, hal ini mungkin menjadi alasan untuk memakai kombinasi tanpa AZT. Angka penularan HIV dari ibu yang memakai kombinasi dengan atau tanpa AZT adalah serupa. Petunjuk praktis adalah “Yang terbaik buat ibu adalah yang terbaik buat bayi.”
Tes HIV untuk perempuan hamil
Mengetahui status HIV secara dini waktu hamil sangat bermanfaat untuk ibu dan bayi. Kemampuan kita untuk mengawasi kesehatan dan kehidupan sendiri diperbaiki bila diketahui kita terinfeksi HIV. Lagi pula, bila kita mengetahui lebih dini, kita dapat melakukan intervensi untuk mencegah penularan pada bayi. Oleh karena itu, sebaiknya tes HIV ditawarkan kepada semua perempuan hamil, apalagi yang pernah berperilaku berisiko. Namun, tes harus dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, dan dilengkapi dengan konseling sebelum tes dan setelah tes, serta dengan persetujuan berdasarkan informasi yang lengkap dan benar (informed consent).
Perempuan sering disarankan tidak memakai obat untuk penyakit lain saat hamil. Namun, hal ini tidak berlaku bila memakai ART saat hamil. Perbedaan ini dapat membingungkan. Tidak seorang pun dapat berjanji bahwa tidak ada risiko sama sekali dari penggunaan ARV saat kita hamil. Contohnya, beberapa jenis ARV tidak boleh dipakai waktu hamil. Namun ribuan perempuan sudah memakai ART waktu hamil tanpa mengalami masalah pada bayinya. Sebaliknya, penggunaan ARV sudah menghasilkan banyak bayi yang terlahir tidak terinfeksi HIV. Tidak ada bukti bahwa penggunaan ARV waktu lahir meningkatkan angka atau jenis lahir cacat sejak pemantauan dimulai pada 1989. Waktu dibahas dengan dokter sebelum melahirkan, kita harus menilai manfaat dan risiko penggunaan ARV untuk kita sendiri dan untuk bayi kita.
Menjadi hamil tidak memperburuk kesehatan perempuan terinfeksi HIV, atau mempercepat lajunya penyakit. Justru ada bukti bahwa kehamilan mempunyai dampak positif pada kesehatan ibu. Namun menjadi hamil dapat mengakibatkan penurunan jumlah CD4. Penurunan tersebut umumnya kurang lebih 50, tetapi dapat berbedabeda. Jumlah CD4 umumnya kembali pada angka semula segera setelah melahirkan. Walaupun jumlah CD4 mutlak dapat turun, kemungkinan persentase CD4 (CD4%) akan lebih stabil, dan mungkin lebih baik dipantau CD4% waktu hamil.
Namun, bila jumlah CD4 turun di bawah 200, risiko timbulnya infeksi oportunistik (IO) dapat menjadi lebih tinggi. Infeksi ini dapat mempengaruhi baik ibu maupun bayi, dan kita mungkin harus lebih waspada terhadap gejala IO dan pastikan bahwa infeksi segera diobati. Umumnya ibu hamil seharusnya memakai obat pencegahan IO (profilaksis) yang sama dengan perempuan tidak hamil, terutama dengan memakai kotrimoksazol (sejenis obat antibiotik) bila jumlah CD4 di bawah 200. Lagi pula, kadang kala bila kita mulai ART saat hamil, jumlah CD4 kita tidak akan meningkat secara bermakna, walaupun viral load kita menurun. Jangan khawatir! CD4 kita kemungkinan akan naik lebih tinggi setelah bayi lahir. HIV tidak mempengaruhi kelanjutan kehamilan pada ibu yang memakai ART. HIV juga tidak mempengaruhi kesehatan janin, asal ibunya tidak mengalami IO.
Pencegahan penularan pada bayi dan kesehatannya sangat terkait
dengan perawatan kita sendiri. Konseling sebelum kelahiran yang
diberikan pada ibu terinfeksi HIV harus meliputi:
· nasihat dan pembahasan mengenai cara mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi;
· informasi mengenai pengobatan untuk HIV untuk ibu saat ini; dan
· informasi mengenai pengobatan untuk HIV untuk ibu pada masa depan.
Anak kita pasti ingin agar kita sehat dan kuat waktu dia tumbuh. Dan pasti kita ingin tetap ada untuk mengawasinya saat ke sekolah dan menjadi dewasa.
Bagaimana bila satu pasangan terinfeksi HIV dan yang lain tidak?
Masih belum ada kesepakatan tentang nasihat terbaik untuk pasangan yang sero-diskordan (satu terinfeksi HIV, yang lain tidak). Dalam keadaan ini, umumnya pasangan ditegaskan untuk tidak melakukan hubungan seks tanpa kondom. Walaupun dilakukan hubungan seks tanpa kondom dalam upaya pembuahan, masih ada risiko penularan pada pasangan yang tidak terinfeksi HIV. Contohnya, bila perempuan tidak terinfeksi HIV, kemungkinan tertular melalui hubungan seks tanpa kondom tergantung pada banyak hal, termasuk viral load HIV dalam air mani pasangan laki-lakinya. Penting kita ingat bahwa viral load yang tidak terdeteksi dalam darah bukan berarti viral load dalam air mani juga tidak terdeteksi. Untuk laki-laki yang tidak terinfeksi HIV, risiko penularan tergantung pada viral load HIV dalam cairan vagina pasangan perempuannya. Sekali lagi, viral load yang tidak terdeteksi dalam darah tidak berarti keadaan sama berlaku pada cairan vagina.
Faktor lain juga penting. Seorang laki-laki yang tidak disunat berisiko lebih tinggi tertular HIV karena sel dalam kulup lebih rentan terhadap infeksi HIV. Infeksi pada saluran kelamin juga meningkatkan risiko penularan HIV waktu berhubungan seks. Sebaiknya kedua pasangan memeriksakan diri untuk infeksi jenis ini. Pemeriksaan ini sebaiknya juga termasuk skrining dan pengobatan untuk semua jenis infeksi menular seksual. Pasangan laki-laki sebaiknya melakukan pemeriksaan spermanya, untuk memastikan tidak ada infeksi apa pun, dan memastikan bahwa jumlah spermanya cukup tinggi. Terlepas dari faktor risiko ini, HIV sebetulnya cukup sulit menularkan.
Secara statistik, adalah jauh lebih sulit menularkan HIV dibandingkan menjadi hamil. Jadi percobaan sangat singkat untuk pembuahan waktu masa paling subur perempuan dapat berisiko sangat rendah bila pasangan terinfeksi HIV mempunyai viral load yang tidak terdeteksi. Namun risiko penularan dari satu kali berhubungan seks tidak nol. Walaupun orang dapat menjadi hamil dari satu kali berhubungan seks, dan juga tertular HIV dari satu kali berhubungan seks. Ada masalah lain yang harus ditekankan.
Walaupun sejumlah percobaan pembuahan dapat relatif aman, beberapa pasangan tidak kembali memakai kondom setelahnya. Hal ini dapat menyebabkan pasangan HIV-negatif tertular. HIV masih penyakit yang akan mempengaruhi sisa hidup kita. Bila salah satu dari kita tetap tidak terinfeksi HIV sampai saat ini, jangan hal ini diubah karena ada keputusan untuk mendapatkan anak. Untuk pasangan yang ingin mendapatkan anak, ada pilihan lain dengan risiko yang sangat rendah pada pasangan yang tidak terinfeksi HIV, walaupun saat ini, pilihan tersebut sulit terjangkau.
Apakah setiap perempuan terinfeksi HIV harus memakai ART pada waktu hamil ?
Setiap perempuan hamil terinfeksi HIV sebaiknya secara sungguhsungguh mempertimbangkan memakai pengobatan ARV waktu hamil, walaupun hanya untuk sementara, contohnya pada akhir kehamilan dan penghentian terapi setelah bayi lahir. Hal ini tidak tergantung pada jumlah CD4 atau viral load ibu. Umumnya pengobatan yang diberikan pada perempuan terinfeksi HIV yang hamil adalah sama seperti pengobatan pada perempuan dewasa yang tidak hamil. Namun pedoman pengobatan untuk perempuan hamil adalah sedikit berbeda dengan pedoman untuk orang dewasa lain. Sering ada pendapat bahwa, sekali kita mulai ART, kita harus meneruskannya seumur hidup. Pendapat ini tidak benar. Kadang kala orang mulai terapi untuk sementara, kemudian berhenti. Hal ini paling sering terjadi pada masa kehamilan.
Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan HIV dapat mengurangi risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi. Bila viral load di bawah 1000 pada minggu ke-36 kehamilan, risiko bayi akan terinfeksi waktu lahir di bawah 1%, tanpa dibutuhkan bedah sesar. Banyak negara telah mempertimbangkan penggunaan terapi kombinasi tiga obat jangka pendek untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi pada perempuan terinfeksi HIV yang belum membutuhkan ART bagi dirinya sendiri. Setelah persalinan, terapi dihentikan bila masih belum memenuhi kriteria pemberian ART bagi dirinya. Terapi tersebut sangat efektif untuk mencegah penularan HIV kepada bayi. Namun demikian, intervensi ini juga memberikan risiko efek samping obat kepada ibu dan bayinya dalam keadaan ibu masih cukup sehat dan belum memerlukan ART. Saat ini, pedoman di Indonesia belum menyetujui diberikan ART penuh pada perempuan hamil yang tidak memenuhi kriteria untuk mulai.
Setelah bayi lahir
Apa yang harus kita pertimbangkan untuk kesehatan kita sendiri?
Benar, dan dengan cara yang benar. Kepatuhan pada ART setelah melahirkan adalah sangat penting. Banyak perempuan patuh 100% selama kehamilan, tetapi setelah melahirkan, mereka melupakan kesehatan dirinya sendiri. Hal ini tidak mengherankan. Mendapatkan bayi baru menimbulkan perubahan besar pada kehidupan kita, dan selalu mengganggu rutinitas kita. Kegiatan kita akan berubah dan kemungkinan kita akan kurang tidur. Beberapa perempuan juga mengalami depresi setelah kelahiran. Kita akan membutuhkan dukungan tambahan dari keluarga, teman dan petugas layanan kesehatan. Kelompok dukungan sebaya juga dapat sangatmembantu. Bila bayi diberikan ART, cobalah menyesuaikan jadwal dosis bayi dengan jadwal dosis kita sendiri. Dengan cara ini, lebih mungkin kita dapat ingat memakai obat kita.
Bayi yang terlahir dari ibu terinfeksi HIV selalu akan menunjukkan hasil tes HIV-positif pada awal. Hal ini terjadi karena bayi dilindungi pada awal hidup oleh antibodi yang diberikan oleh ibunya. Jika bayi tidak terinfeksi HIV, antibodi ini akan hilang, paling lambat setelah usia 18 bulan. Namun, bila bayi tidak terinfeksi
HIV, antibodi ibu akan mulai hilang waktu bayi berusia sembilan bulan. Pada usia sembilan bulan 74% bayi yang tidak terinfeksi akan menunjukkan hasil tes HIV yang negatif, dan angka ini menjadi 96% pada usia satu tahun. Oleh karena itu, sebaiknya bayi dites HIV pada usia sembilan bulan. Hasil tes negatif pada saat itu berarti bayi tidak terinfeksi HIV. Apabila hasil tes positif, tes lagi pada usia satu tahun. Sekali lagi hasil tes negatif saat itu berarti bayi tidak terinfeksi HIV, tetapi bila hasil tetap positif, tes lagi tiga bulan kemudian, dan pada usia 18 bulan bila hasil positif pada usia 15 bulan. Hasil positif pada usia 18 bulan berarti bayi memang terinfeksi HIV.
BAB III
PENUTUP
Pemerintah Indonesia telah mematenkan produksi ARV jenis Efavirenz, Neviraphine, dan Lamivudine. Namun karena telah ditemukan kekebalan terhadap obat-obatan ini, pemerintah berusaha mematenkan ARV lini kedua, yaitu Tenovovir, Ritonavir dan Didanosin. Kini, 12 obat-obat ARV telah terdaftar dalam daftar obat penting WHO, yaitu Abacavir (ABC), Didanosin (ddI), Lamivudine (3TC), Stavudine (d4T), Zidovudine (ZDV atau AZT), Efavirenz (EGV atau EFZ), Nevirapine (NVP), Indinavir (IDV), Nelfinavir (NFV), Ritonavir, Saquinavir (SQV), Lopinavir/low-dose Ritonavir (LPV/r). Antarobat ARV ini akan dikombinasikan untuk mencapai pengobatan efektif dalam jangka panjang. Tujuannya adalah mengurangi jumlah HIV dalam darah dan meningkatkan jumlah sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh.
UNAIDS kini semakin menggiatkan edukasi terhadap remaja putri untuk memahami HIV dan cara penularannya. Di Indonesia sendiri, pencegahan penularan HIV/ADIS melalui sektor pendidikan dilakukan melalui jalur formal dan informal. Kementrian Pendidikan Nasional mengupayakan pengintegrasian edukasi HIV/AIDS dengan kurikulum pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Saat ini edukasi HIV/AIDS telah terintegrasi dengan beberapa mata ajar, misalnya Biologi, bahasa Indonesia, dan Pendidikan Jasmani Kesehatan.
Bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui tetapi memiliki tanda atau gejala infeksi HIV dan lahir dari ibu terinfeksi HIV: Risiko vaksinasi BCG biasanya melampaui manfaat, dan bayi tidak boleh menerima vaksin pada beberapa minggu pertama kehidupannya, karena gejala klinis infeksi HIV biasanya muncul setelah bayi berusia tiga bulan. Namun, vaksin dapat diberikan apabila infeksi HIV dinyatakan tidak ada berdasarkan tes virologi secara dini
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, ary. 2000. Kesehatan Modern. Jakarta : Puspa Swara.
Martin, Anthony. 1999. Pemikiran Kedokteran Modern. Bandung: Kawan Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar